SARGA.CO - Di tengah hiruk-pikuk pada tahun 1998 yang penuh ketidakpastian, kisah tak terduga lahir dari lintasan pacuan kuda Indonesia. Namanya Permata Rajawali, seekor kuda betina chestnut asal Sumatera Barat yang datang tanpa penyisihan, tanpa sorotan besar, dan tanpa keramaian peserta seperti tahun-tahun sebelumnya. Namun justru dari kondisi inilah, lahir salah satu cerita paling ikonik dalam sejarah Derby Indonesia.
Permata Rajawali bukan kuda sembarangan. Ia merupakan keturunan G3 dengan sire Nan Renceh (TB AUS) dan dam Aster (G2). Posturnya kuat, stamina stabil, dan secara teknis ia memiliki semua modal untuk menjadi bintang.
Namun anehnya, meski “kuda bagus”, Permata tidak diikutkan dalam babak penyisihan Derby. Keputusan yang membuat banyak pihak bertanya-tanya, hingga akhirnya terbukti bahwa takdir punya rencana tersendiri.
Dibesarkan oleh peternak Dr. Ahmad Rizal, Permata kemudian jatuh ke tangan pemilik Faisal R., dilatih oleh Iwan K dan dipandu oleh joki berpengalaman, E. Sonitan.
Derby yang Ditunda karena Kerusuhan 1998
Seharusnya Kejurnas Derby berlangsung pada Juli 1998. Tetapi kerusuhan besar yang melanda Indonesia membuat event ini ditunda hingga Desember. Kondisi tersebut meninggalkan trauma mendalam bagi sejumlah stable besar. Akibatnya, saat kemudian Derby resmi digelar, pesertanya justru minim, momen langka dalam sejarah pacuan kuda Indonesia.
Dalam atmosfer yang dingin dan penuh sisa ketakutan itu, Permata Rajawali akhirnya ikut turun ke lintasan.
Start Berani dari Gate dan Langsung Mengambil Alih
Begitu gate terbuka, Permata Rajawali langsung tampil berani. Joki E. Sonitan mendorongnya maju untuk mengambil posisi front-runner, tak memberi kesempatan bagi lawan untuk memimpin.
Strategi ini menegaskan satu hal: meski minim pengalaman di babak penyisihan, Permata tidak datang untuk sekadar ikut balapan. Ia datang untuk memenangkan Derby.
Memasuki 400 meter terakhir, tikungan menuju garis finish, terjadi adegan yang masih diceritakan hingga kini. Permata mulai melambat.
Penonton sempat terdiam. Beberapa mengira ada kesalahan. Namun joki Sonitan tetap tenang, membiarkan Permata menahan laju sambil menunggu lawan mendekat. Seolah-olah ia sedang 'memancing'. Dan benar saja.
Begitu kuda di belakang mulai mencoba menutup jarak, Permata Rajawali meledak. Ia kembali memacu kecepatan dengan hantaman kuat, memisahkan diri dari rombongan dan melenggang menuju garis akhir.
Teknik melambat lalu meledak yang jarang dilakukan itu justru membuat Permata menang telak, meninggalkan lawan sejauh 4 hingga 5 panjang kuda. Di tengah Derby paling sunyi dan paling aneh dalam sejarah, muncullah juara yang justru membawa warna baru.
Buktinya kemenangan Derby bukan kebetulan, setahun kemudian Permata Rajawali kembali unjuk gigi. Pada 9 Desember 1999, ia memenangi Kelas A Sprint 1.300 meter dengan waktu impresif 01.27.15 detik.Prestasi ini sekaligus memantapkan namanya sebagai salah satu kuda betina terbaik era tersebut. (Sumber: Baharna TV, FB IGUTIULS, FB Pacuan Kuda Tompaso, Sulawesi Utara)
Install SARGA.CO News
sarga.co