SARGA.CO - Nama harum seekor kuda pacu tak selamanya ditentukan oleh banyaknya gelar kejuaraan pacuan yang diraih sepanjang kariernya. Ada kalanya seekor kuda yang berulang kali finish di belakang para juara mampu mencuri perhatian bahkan diusulkan untuk menerima gelar Horse of The Year.
Kuda itu tentu saja saja punya keistimewaan. Kemampuannya berlari membuat banyak alis mata mendelik melihat kecepatannya. Apalagi melihat kisah hidupnya yang nyaris kehilangan nyawa karena sambaran petir yang menyerang peternakan kuda.
Cerita nyata ini terjadi pada kuda bernama Thanksgiving. Namanya selalu dikaitkan dengan trainer bernama Max Hirsch.
Pada tahun 1930-an, Hirsch adalah seorang raksasa di olahraga pacuan kuda. Dia memenangkan Traver Stakes pada tahun 1934 bersama Observant dan melatih kuda Bold Venture yang mememangkan Kentucky Derby serta Preakness pada tahun 1936. Dengan segala gelar yang diraihnya, Hirsch sedang dalam perjalanan menuju daftar Hall of Fame.
Sarat pengalaman berkuda, Hirsch pernah melatih kuda dari beberapa orang terkaya dan berkuasa di Tanah Amerika. Salah satunya adalah Arnold Rothstein, pejudi kaya dan pengatur strategi dari Seri Dunia 1919.
Hirsch akhinya menjadi pelatih kuda untuk stable King Ranch pada tahun 1934 dan kelak menjadi salah satu kandang kuda paling sukses di Amerika.
Hubungan antara Hirsch dan Thanksgiving berawal dari kehadiran Anne Corning, istri anggota Kongres dari New York Bagian Utara bernama Parker Corning. Dia merupakan penggemar pacuan kuda dan memiliki sejumlah kuda yang dipelihara.
Nyonya Corning, mengutip laman Americasbestracing.net memiliki seekor kuda berwarna cokelat bernama Thankgiving yang diminta dilatih oleh Hirsch. Bersama kuda-kuda lainnya, Hirsch memelihat Thankgiving di Saratoga Race Cource pada musim panas 1937 untuk mempersiapkan diri jelang pacuan kelas 2 tahun.
Bulan Juli 1937, sebelum dimulainya perlombaan, badai petir menyambar kandang yang berisi beberapa ekor kuda, termasuk Thanksgiving. Saat peristiwa terjadi, Hirsch yang sedang duduk di dapur dekat kandang merasakan petir menyambar kakinya. Ia melihat ke arah koki yang pingsan.
Insting Hirsch sebagai pelatih kuda langsung tertuju pada kandang. Dia tahu apa yang terjadi dan melompat serta berlari dari meja dapur menuju kandang kuda. Sesuai dugaannya. sejumlah kuda terhuyung-huyung dan beberapa lainnya jatuh. Thanksgiving tergeletak di tanah dan pingsan.
Beruntung Thanksgiving dapat pulih dari peristiwa mencekam itu. Tak hanya itu, kuda tersebut menunaikan janjinya untuk ikut pacuan musim di kelas kuda 2 tahun serta memenangkan dua dari lima perlombaan.
Namun kariernya di kelas 3 tahun tak semulus dugaan. Thanksgiving tak satu kalipun memenangkan balapan. Dia juga tak berkompetisi di balapan Triple Crown di mananapun.
Meski miskin gelar, kehadiran Thanksgiving sukses mengernyitkan alis para pecinta olahraga pacuan. Sampai-sampai namanya diusulkan menerima penghargaan Horse of The Year.
Usul yang juga didukung Elizabeth Grinnell yang menulis di Country Life and the Sportsman. “Meskipun ia mungkin bukan yang tercepat, saya pikir Thanksgiving mungkin yang paling menarik dari semuanya. Dalam waktu lima minggu, anak kuda jantan bay yang bertubuh kecil ini, dalam empat start berturut-turut di tiga lintasan berbeda, telah menyamai dua rekor lintasan dan memecahkan dua rekor lainnya tanpa memenangkan satu balapan pun,” tulisnya.
Finish di urutan ketiga saat balapan Yankee Handicap di Suffolk Downs, kecepatan Thanksgiving menyamai rekor lintasan yang dipecahkan oleh pemenang perlombaan, Cravat.
Pada bulan Juli, di Empire City Handicap di Yonkers, New York, Thanksgiving berpacu melawan Stagehand yang merupakan salah satu kuda paling populer dan pemenang Santa Anita Derby. Stagehand memenangkan perlombaan itu, tetapi Thanksgiving hanya setengah panjang di belakangnya. Kedua kuda memecahkan rekor lintasan.
Kemudian di Butler Handicap, Thanksgiving optimistis bisa meraih gelar karena melawan kuda yang lebih tua. Namun hasil berkata lain. Dia kalah satu panjang dari pemenang, Esposa. Sekali lagi, tiga finisher teratas semuanya memecahkan rekor lintasan sebelumnya.
Terakhir, Mary Hirsch sekali lagi membawa Thanksgiving dalam perlombaan handicap melawan kuda yang lebih tua, American Legion pada Juli di Saratoga. Perlombaan itu dimenangkan Airflame yang memecahkan rekor lintasan yang telah bertahan selama 18 tahun. Thanksgiving, yang menyelesaikan anggukan kepala di belakang Airflame yang lebih tua, juga memecahkan rekor, tetapi sekali lagi gagal menjadi pemenang.
Palmer dan Grinnell melihat Thanksgiving selalu hadir di antara para pemenang di setiap perlombaan, terlepas dari seberapa cepat mereka berlari. Dan perlombaan Thanksgiving musim panas itu membuktikan bahwa semua lawan harus berlari sangat cepat untuk bisa mengalahkan Thanksgiving.
Bukti itu diperlihatkan Thanksgiving saat Hirsch memboyongnya untuk mengikuti perlombaan Saratoga. Dia harus kembali menghadapi Stagehand serta Jolly Tar yang diunggulkan memenangkan balapan.
Saat pacuan berlangsung, Thanksgiving berlari dengan baik dan memimpin di kedua tikungan. Kecemasan muncul karena Stagehand dan Jolly Tar menguntitnya dari belakang. Kedua kuda ini dikenal sebagai pelari strong finisher.
Namun sang joki, Eddie Arcaro, yakin Thanksgiving belum selesai berlari. Dia terus mendesaknya untuk berlari hingga akhirnya menyentuh garis finish dengan perbedaan jarak enam panjang kuda dari Jolly Tar,
Melihat ke belakang, kemenangan ini terasa istimewa bagi Thanksgiving yang pernah merasakan sambaran petir. Sementara bagi Mary Hirsch, gelar yang diukir Thanksgiving membuatnya mengukir sejarah sebagai trainer perempuan pertama yang melatih pemenang lomba. Prestasi yang baru bisa ditiru 85 tahun kemudian oleh Jena Antonucci dengan Arcangelo pada tahun 2023.
Dengan kemenangan ini, kuda Thanksgiving membuktikan bahwa petir memang bisa menyambar dua kali di tempat yang sama.
Install SARGA.CO News
sarga.co