SARGA.CO - Dalam sejarah pacuan kuda Indonesia, ada satu nama yang tak akan pernah terlupakan: Cahaya Nagari. Seekor kuda betina KPI, lahir pada 21 Agustus 2006, anak dari Surya Baskara dan Bumi Pancasila. Di balik perjalanan karier yang penuh liku, Cahaya Nagari menorehkan salah satu kemenangan paling fenomenal: Indonesia Derby 2010.
Namun kisah kemenangan itu bukan sekadar tentang podium atau trofi. Ini adalah cerita tentang ketekunan, keberanian, dan keajaiban.
Perjalanan Berat Sejak Lahir
Cahaya Nagari memulai hidupnya dengan tantangan yang berat. Ayahnya, Surya Baskara, telah meninggal sebelum sempat melihat putrinya lahir. Saat berusia dua tahun, Cahaya sering sakit-sakitan, sehingga ia bahkan tidak dapat mengikuti kelas perdananya untuk kuda 2 tahun.
Debutnya baru dimulai saat berusia 3 tahun, dan hasilnya mengecewakan: kekalahan demi kekalahan terus menempel. Pada Pertiwi Cup 2010, ia finis di posisi ke-12. Di Jakarta Derby bulan Juni, ia hanya mampu finis di posisi ke-8. Di babak penyisihan Derby, Cahaya berhasil meraih posisi ke-4, cukup untuk lolos ke Indonesia Derby 2010, meski banyak pihak mulai meragukan potensinya.
Dua Minggu Menuju Derby: Krisis dan Keraguan
Hanya dua minggu sebelum Derby, Cahaya menghadapi ujian terbesar dalam hidupnya. Ia menolak makan selama 12 hari, hanya menyantap seperdelapan porsi harian. Dua hari sebelum balapan, ia mulai makan lagi, namun porsi makanannya hanya setengah dari biasanya.
Pada hari lomba, Cahaya terlihat kurus dan lemah. Banyak yang mulai kehilangan harapan, termasuk sang pemilik. Para penggemarnya hanya bisa menunggu sebuah keajaiban.
Keajaiban di Indonesia Derby 2010
Ketika start dimulai, Cahaya Nagari berlari di posisi belakang, tampak jauh dari para pesaingnya. Selama perjalanan balapan, sorakan untuknya minim, namun Cahaya tetap berlari sekuat tenaga.
800–600 meter menjelang finish, ia mulai meningkatkan kecepatannya. Sekitar 400 meter sebelum garis finish, Cahaya menyalip lawan satu per satu, seolah berlari bersama arwah sang ayah, Surya Baskara, yang tak pernah meraih Derby di masa lalu.
Akhirnya, dengan selisih satu panjang kuda, Cahaya Nagari menyentuh garis finish pertama, kemenangan yang tak pernah terduga dari kuda yang sebelumnya belum pernah menang sama sekali sepanjang kariernya.
Legenda yang Menginspirasi
Kemenangan Cahaya Nagari bukan sekadar trofi. Ini adalah simbol semangat pantang menyerah, bukti bahwa keberanian dan kerja keras bisa melampaui segala keterbatasan. Dari seekor kuda yang sering sakit, sering kalah, dan diragukan semua orang, ia menjadi satu-satunya kuda KPI yang memenangkan Indonesia Derby.
Bagi penggemar dan pecinta pacuan kuda, Cahaya Nagari bukan hanya legenda balap. Ia adalah inspirasi, bukti bahwa keajaiban bisa muncul dari yang paling tak terduga, asalkan ada keberanian untuk terus berlari.
(Sumber: FB IGUTIULS, Mario Bahar)
Install SARGA.CO News
sarga.co