SARGA.CO - Ajang Derby selalu menjadi sorotan utama dalam dunia pacuan kuda. Namun di balik gengsi dan prestisenya, muncul satu pertanyaan yang kerap menggelitik publik: mengapa kuda yang berlaga di Derby selalu dibatasi pada usia tiga tahun? Jawabannya ternyata bukan sekadar tradisi, melainkan berkaitan erat dengan kesiapan fisik, mental, dan tingkat kompetisi tertinggi.
Di banyak negara, termasuk Indonesia, Derby dikenal sebagai puncak kompetisi bagi generasi muda kuda pacu. Tidak semua kuda berkesempatan tampil di ajang ini. Hanya mereka yang mampu melewati proses seleksi ketat dan rangkaian penyisihan panjang yang berhak menginjak lintasan Derby. Karena itu, Derby kerap dianggap sebagai ajang pembuktian tertinggi bagi kuda pacu terbaik, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Batasan usia tiga tahun bukanlah tanpa alasan. Dalam dunia pacuan kuda, usia ini dianggap sebagai fase emas performa atletik. Pada tahap ini, kuda dinilai telah mencapai keseimbangan ideal antara kekuatan fisik dan kematangan mental. Tubuh sudah cukup berkembang untuk menghadapi tekanan balapan intens, namun masih menyimpan energi, kecepatan, dan daya juang khas kuda muda.
Kesiapan inilah yang menjadikan usia tiga tahun sebagai standar global dalam ajang Derby. Di usia ini, potensi kuda benar-benar diuji, bukan hanya soal kecepatan, tetapi juga daya tahan, kecerdasan, dan kemampuan beradaptasi di bawah tekanan kompetisi tinggi.
Didukung Kajian Ilmiah
Penetapan usia tiga tahun sebagai syarat Derby juga didukung oleh kajian ilmiah. Berdasarkan rujukan dari The Environmental Literacy Council, kuda Thoroughbred umumnya mencapai kondisi fisik yang hampir optimal pada usia tersebut. Struktur tulang, ligamen, dan tendon telah berkembang cukup kuat untuk menopang balapan jarak menengah hingga jauh dengan intensitas tinggi.
Tak hanya itu, secara mental, kuda di usia tiga tahun cenderung lebih fokus dan tenang. Mereka lebih responsif terhadap arahan joki dan mulai mampu menjalankan strategi balapan dengan lebih matang. Kombinasi inilah yang membuat performa kuda di usia ini berada pada titik paling kompetitif.
Dengan semua pertimbangan tersebut, tak heran jika Derby selalu menjadi ajang paling bergengsi dalam kalender pacuan kuda. Derby bukan sekadar lomba, melainkan panggung pembuktian, tempat di mana kekuatan fisik, kecerdasan, dan mental juara diuji secara bersamaan.
Pada akhirnya, batasan usia tiga tahun menjadikan Derby sebagai kompetisi yang adil, kompetitif, dan sarat makna. Di lintasan inilah lahir kuda-kuda terbaik, yang bukan hanya cepat, tetapi juga siap secara menyeluruh untuk menyandang status juara sejati.
Install SARGA.CO News
sarga.co