SARGA.CO — Salah satu akhir balapan paling dramatis dalam sejarah Breeders’ Cup terjadi pada 2010 ketika Zenyatta, kuda betina yang sebelumnya tak terkalahkan dalam 19 penampilan, harus menerima kekalahan pertamanya sekaligus terakhir dalam kariernya.
Zenyatta datang ke Breeders’ Cup Classic 2010 sebagai bintang terbesar balap kuda Amerika. Kuda betina milik Jerry dan Ann Moss serta dilatih John Shirreffs itu telah memenangkan 19 balapan secara beruntun sejak debutnya pada 2008.
Setahun sebelumnya, Zenyatta bahkan mencatat sejarah dengan memenangkan Breeders’ Cup Classic 2009 setelah melakukan pengejaran spektakuler dari posisi belakang untuk mengalahkan Gio Ponti.
Memasuki edisi 2010 di Churchill Downs, perhatian publik tertuju pada satu pertanyaan: bisakah Zenyatta menutup kariernya dengan 20 kemenangan beruntun?
Ia menjadi favorit utama meski harus menghadapi sejumlah lawan tangguh, termasuk Blame, pemenang Whitney Handicap yang juga memiliki catatan bagus di Churchill Downs.
Balapan berlangsung dramatis. Jockey Mike Smith membawa Zenyatta ke posisi belakang seperti biasanya. Memasuki lintasan lurus, ia masih tertinggal jauh dari para pesaingnya, bahkan sempat berada lebih dari 14 panjang di belakang pemimpin lomba.
Namun, Zenyatta kembali menunjukkan akselerasi luar biasa. Dari posisi belakang, ia melesat mengejar rombongan dan mulai mendekati Blame yang sudah berada di depan.
Sayangnya, kali ini jarak yang tersisa terlalu pendek. Blame berhasil mempertahankan keunggulan dan menang dengan selisih hanya satu kepala. Zenyatta harus puas berada di posisi kedua, sekaligus kehilangan rekor sempurnanya.
Kekalahan tersebut menjadi momen emosional bagi Smith. Sang jockey mengaku sangat terpukul dan menyalahkan dirinya sendiri karena merasa terlambat membawa Zenyatta bergerak lebih awal.
Meski gagal mempertahankan rekor tak terkalahkan, Zenyatta tetap dinobatkan sebagai Horse of the Year 2010 dan kembali meraih penghargaan champion older female. Ia kemudian pensiun dan menjalani kehidupan sebagai induk di Lane’s End Farm.
Zenyatta dilantik ke Racing Hall of Fame pada 2016 dan hingga kini tetap dikenang sebagai salah satu kuda pacu paling populer di abad ke-21.
Sementara itu, kemenangan di Breeders’ Cup Classic menjadi balapan terakhir Blame. Ia pensiun dengan pendapatan lebih dari US$4,3 juta dan menerima Eclipse Award sebagai champion older male.
Pertarungan Blame dan Zenyatta di Churchill Downs membuktikan bahwa dalam balap kuda, bahkan dominasi luar biasa pun dapat berakhir dalam hitungan detik. Dan justru karena kekalahan itulah, kisah Zenyatta menjadi semakin legendaris.
(Sumber: America’s Best Racing)
Install SARGA.CO News
sarga.co