SARGA.CO — Diktaean membuktikan bahwa usia delapan tahun bukan penghalang untuk tetap bersaing di level internasional. Kuda gelding asal Jepang itu mempertahankan gelar Korea Cup di Seoul Racecourse pada 6 September 2026, sekaligus menjadi kuda Jepang ketiga yang mampu memenangi ajang tersebut dua tahun berturut-turut.
Kemenangan ini terasa lebih penting karena Korea Cup untuk pertama kalinya berstatus internasional Grup 2 (G2). Menempuh 1.800 meter di lintasan pasir Seoul, Diktaean menuntaskan lomba dengan catatan waktu 1 menit 51,7 detik dan memperpanjang rangkaian kemenangan kuda Jepang di Korea Cup menjadi empat edisi beruntun.
Dilatih Katsunori Arayama dan kembali ditunggangi Takayuki Yano, Diktaean mengawali lomba dengan tenang di barisan belakang race sembilan ekor kuda itu. Di garis depan, sesama wakil Jepang Sunday Funday bersama Yamato Tsunoda segera mengambil kendali dan membangun keunggulan.
Joki Yano tidak terburu-buru merespons. Di pertengahan lintasan akhir, ia mulai membawa Diktaean maju dari sisi luar hingga berada di urutan ketiga, di belakang Sunday Funday dan wakil Korea Selatan, Clean One. Ketika Clean One mulai kehilangan tenaga, duel praktis menyisakan dua kuda Jepang.
Memasuki 200 meter terakhir, Diktaean mengejar Sunday Funday, lalu menjauh dengan akselerasi panjang dan stabil. Ia menang dengan keunggulan enam panjang kuda, sementara Amazing Khan—wakil tuan rumah terbaik—finis ketiga, sebelas panjang di belakang Sunday Funday.
“Saya datang ke sini untuk menang. Saya sempat sedikit gugup sampai tikungan pertama, tetapi sekarang saya lega,” kata Yano seusai lomba, mengutip The Straits Times.
Ia menambahkan bahwa dia memberikan dorongan yang bertahan hingga akhir dan Diktaean menjawabnya dengan tepat. Lebih dari sekadar ledakan kecepatan sesaat, kemenangan ini memperlihatkan kemampuan sang kuda menjaga momentum di lintasan yang menuntut stamina.
Sebelum Diktaean, hanya London Town pada 2017–2018 dan Crown Pride pada 2023–2024 yang mampu meraih dua kemenangan Korea Cup secara beruntun. Diktaean kini masuk dalam kelompok kecil tersebut, tetapi pencapaiannya memiliki warna tersendiri, ia kembali menang pada usia delapan tahun, setelah sebelumnya juga menjuarai Tokyo Daishoten G1 pada akhir 2025.
Dua penampilannya sebelum berangkat ke Seoul sebenarnya tidak berakhir dengan kemenangan, Diaktaean finis kelima di Kawasaki Kinen dan ketiga di Teio Sho. Karena itu, hasil di Korea tidak semata-mata mengulang keberhasilan lama, melainkan menunjukkan kemampuan timnya memilih target dan mengembalikan kondisi kuda pada saat yang tepat.
“Saya kira penggemar Jepang akan sangat menyukai hasil ini, dan saya berterima kasih atas dukungan mereka,” ujar Yano.
Ambisinya pun belum berhenti. Jika kembali mendapat undangan pada 2027, Yano menyatakan timnya akan membidik kemenangan ketiga secara beruntun—sebuah capaian yang belum pernah terjadi dalam sejarah Korea Cup.
Keberhasilan Diktaean menjadi bagian dari hari dominan Jepang di Seoul. Pada Korea Sprint G3 sejauh 1.200 meter, Dragon Welds mengalahkan American Stage untuk menghasilkan finis 1–2 bagi Jepang. Dengan demikian, dua perlombaan internasional utama Korea Selatan pada hari itu sama-sama dimenangi wakil Jepang.
Sapuan gelar tersebut menegaskan kedalaman program balap dirt Jepang. Dua pemenangnya tampil dengan pola berbeda; Diktaean datang dari belakang dalam lomba jarak menengah, sedangkan Dragon Welds unggul pada sprint. Namun keduanya memperlihatkan kombinasi kesiapan fisik, adaptasi terhadap pasir Seoul, dan eksekusi taktik yang presisi.
Bagi Korea Selatan, finis ketiga Amazing Khan tetap memberi ukuran penting tentang jarak daya saing dengan para penantang asing. Status G2 yang kini disandang Korea Cup juga membuat ajang ini semakin relevan sebagai panggung regional. Bukan hanya memperebutkan hadiah 1,6 miliar won (sekitar Rp21 miliar), tetapi juga menguji kualitas kuda lokal terhadap kekuatan internasional.
Kemenangan Diktaean sekaligus memberinya tiket otomatis melalui program “Win and You’re In” menuju Breeders’ Cup Dirt Mile G1 di Keeneland, Kentucky, Amerika Serikat pada 31 Oktober 2026. Kesempatan serupa ia peroleh tahun lalu, tetapi kubu mereka memilih tidak berangkat ke Amerika Serikat dan memusatkan perhatian pada Tokyo Daishoten—keputusan yang kemudian berbuah gelar G1.
Belum diketahui apakah tim Diktaean akan mengambil jalur berbeda tahun ini. Undangan ke Breeders’ Cup menawarkan prestise global, tetapi keberhasilan musim 2025 menunjukkan bahwa bertahan di Asia juga dapat menjadi pilihan strategis. Apa pun keputusan berikutnya, kemenangan di Seoul memperlihatkan bahwa Diktaean masih memiliki senjata utama: ketenangan pada awal lomba dan tenaga luar biasa saat lawan mulai melemah.
1. Diktaean
2. Sunday Funday
3. Amazing Khan
4. Funny Wild
5. Clean One
6. Unju Guy
7. Daeji Choice
8. Wonpyeong Storm
9. Big Musical Star
Install SARGA.CO News
sarga.co