SARGA.CO — Karier balap internasional Al Riffa harus berakhir lebih cepat dari perkiraan. Kuda peraih tiga gelar Grup 1 (G1) tersebut resmi dipensiunkan setelah cedera ligamen suspensori yang memburuk membuatnya tidak memungkinkan kembali berlomba.
“Sayangnya, kabarnya tidak baik,” ujar Jamie Lovett dari Australian Bloodstock kepada para pemilik, seperti dikutip RaceHub. “Dari sisi rehabilitasi, mengingat usianya serta posturnya yang besar, kekar, dan berat, prognosis untuk memulihkannya agar dapat kembali berlomba tergolong buruk,” terang Lovett.
Sebelum hasil pemindaian dokter hewan mengungkap cedera tersebut pekan ini, putra Wootton Bassett yang berusia enam tahun itu tengah dipersiapkan untuk kembali menjalani musim balap di Australia. Salah satu targetnya adalah tampil lagi di G1 Lexus Melbourne Cup, setelah debut di Benua Kangguru, di Flemington pada tahun lalu.
Lahir pada 2020 dan sepanjang kariernya dilatih Joseph O'Brien, Al Riffa sudah menegaskan statusnya sebagai salah satu kuda terbaik Irlandia sejak berusia dua tahun. Gelar G1 pertamanya diraih pada National Stakes 2022 di Curragh. Dua tahun kemudian, ia kembali berjaya dengan memenangi G1 Grosser Preis von Berlin di Hoppegarten, Jerman.
Pencapaian terbaiknya boleh jadi hadir pada 2025, saat ia kembali ke Curragh dan tampil dominan di Irish St Leger. Al Riffa melesat meninggalkan para pesaingnya untuk menang dengan selisih lebih dari empat length.
Setelah kemenangan tersebut, Australian Bloodstock mengakuisisi Al Riffa dengan nilai yang dilaporkan mencapai tujuh digit. Ia kemudian dibawa mengikuti kampanye global ambisius yang membentang dari Eropa hingga Australia dan Asia.
Kemenangan di Irish St Leger turut mendongkrak dukungan pasar taruhan terhadap Al Riffa, dan Melbourne Cup pun menjadi sasaran besar berikutnya. Meski hanya finis ketujuh, ia segera bangkit dengan menempati posisi keempat pada G1 Hong Kong Vase.
Jadwal tersebut tergolong berat, tetapi Al Riffa tetap bersaing di level tertinggi sepanjang 2026. Keempat penampilannya musim ini berlangsung dalam lomba G1 atau G2, termasuk finis ketiga di Neom Turf Cup, Riyadh, serta peringkat keempat dalam Gold Cup di Royal Ascot.
Secara keseluruhan, Al Riffa mencatat lima kemenangan dari 21 penampilan, berlomba di sembilan negara, dan mengumpulkan pendapatan karier lebih dari US$1,8 juta. Menurut Thoroughbred Daily News, hanya sedikit kuda yang memiliki pengalaman internasional sepadat itu dalam jumlah penampilan yang relatif terbatas.
Meski cedera mengakhiri kiprahnya di lintasan, kondisi tersebut diperkirakan tidak akan menghalangi Al Riffa menjalani karier sebagai pejantan. “Ia memiliki rekam prestasi luar biasa, silsilah yang kuat, dan penampilan yang sangat menarik sebagai calon pejantan. Dalam hal itu, ia memenuhi seluruh kriteria,” kata Lovett, seperti dikutip RaceHub.
Dari sisi silsilah, Al Riffa merupakan keturunan Wootton Bassett, salah satu pejantan modern terkemuka di Eropa. Induknya, Love On My Mind, merupakan keturunan Galileo yang legendaris. Tiga kemenangan G1 yang diraihnya mempertegas kualitas garis keturunan tersebut, sementara kemampuannya tampil kompetitif pada berbagai jarak menjadi nilai tambah lainnya.
Lokasi tempat Al Riffa akan menjalani masa tugas sebagai pejantan masih akan ditentukan. Namun, satu hal sudah pasti: lembaran baru kariernya kini akan dimulai jauh dari arena pacuan.
Install SARGA.CO News
sarga.co