SARGA.CO - Angin laut berhembus pelan dari bibir Samudra Hindia, membawa butiran debu pasir yang beterbangan saat derap kaki kuda menghentak lintasan Pacuan Kuda Legok Jawa, Kabupaten Pangandaran. Sejak dahulu, kuda memiliki kedudukan istimewa dalam kehidupan masyarakat pesisir selatan Jawa Barat. Bukan sekadar hewan tunggangan, kuda adalah sahabat perjalanan, penopang kehidupan, dan simbol kehormatan. Dari tradisi inilah lahir budaya merawat, melatih, dan menguji ketangkasan kuda yang terus diwariskan hingga kini.
Bagi warga Pangandaran, balap kuda bukan sekadar adu cepat. Pada awal tahun 1970-an, di tengah kesederhanaan Desa Legokjawa, muncul gagasan untuk menjadikan tanah lapang di kawasan ini sebagai arena pacuan. Perlombaan kala itu berlangsung sangat sederhana—hanya berupa adu cepat di padang rumput berpasir di pinggir pantai. Kegiatan ini perlahan menjadi tradisi yang digelar rutin satu tahun sekali, tepatnya H 2 setelah Lebaran Idul Fitri.
Dari tahun ke tahun, Lapangan Pacuan Kuda Legok Jawa tidak pernah sepi dari riuh sorak masyarakat. Pacuan kuda menjadi pesta rakyat, tempat berkumpulnya warga dari berbagai pelosok desa. Di sini, tidak hanya ketangkasan kuda yang dipertontonkan, tetapi juga semangat kebersamaan, kegembiraan, dan rasa bangga terhadap tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Di arena pacu, penonton berdiri berdesakan tanpa tribun, tanpa pengeras suara canggih, dan tanpa start gate. Saat panitia mengangkat bendera, para joki langsung memacu kuda lokal mereka yang bertubuh kecil dan hanya diberi pakan rumput alami.
Berkat antusiasme masyarakat yang sangat besar, pacuan kuda menjelma menjadi penggerak ekonomi. Pedagang dadakan bermunculan menjual es lilin hingga makanan tradisional, sementara desa mendapat pemasukan dari penyewaan lahan dan kandang.
Seiring berjalannya waktu, potensi besar Lapangan Legok Jawa mulai dilirik. Transformasi menuju arena modern dimulai pada tahun 2009 ketika diselenggarakan ajang bergengsi bertajuk Pacuan Kuda Galuh Cup 2009. Hal ini menjadi titik awal hadirnya pacuan kuda berskala profesional di pesisir Pangandaran.
Selanjutnya, pada tahun 2012, Lapangan Pacuan Kuda Legok Jawa dijadikan arena relokasi untuk Lapangan Pacuan Kuda Arcamanik (Bandung). Momentum terbesarnya terjadi pada tahun 2014, ketika pembangunan lapangan secara permanen dimulai untuk menyelenggarakan ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX Tahun 2016. Dukungan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat berhasil mengubah wajah Legokjawa menjadi sirkuit bertaraf nasional.
Kini, kualitas lintasan pasir alami Pantai Legok Jawa disebut-sebut sebagai salah satu yang terbaik karena dinilai sangat ideal bagi performa lari kuda. Keunikan lain, sirkuit pacuan kuda di pinggir pantai sangatlah langka, hanya ada di Irlandia serta di Legokjawa, Pangandaran.
Terletak sekitar 34 km dari pusat Pangandaran (± 1 jam perjalanan), Arena Legok Jawa memiliki luas lahan sekitar 18 hektare. Sirkuit ini mengandalkan lintasan utama berbentuk oval sepanjang 1.200 meter dan lebar 16 meter, dengan material pasir murni.
Arena tersebut kini telah dilengkapi sarana pendukung seperti 80 kandang kuda, stall paddock, start gate modern, 4 control tower (menara pengawas) di utara dan selatan, hingga tribun penonton dua lantai.
Kini, Lapangan Pacuan Kuda Legok Jawa berdiri bukan sekadar sebagai arena olahraga, melainkan juga sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Pangandaran. Tradisi memelihara dan melatih kuda tetap dijaga, sementara generasi muda diperkenalkan pada nilai-nilai sportivitas, keberanian, dan cinta Tanah Air melalui olahraga berkuda.
Dengan segala perjalanan panjangnya, Lapangan Pacuan Kuda Legok Jawa menjadi bukti bahwa kearifan lokal dapat tumbuh menjadi kebanggaan daerah. Tempat itu jadi warisan yang harus terus kita jaga, kita rawat, dan kita kembangkan, agar kelak dapat diwariskan kepada anak cucu kita sebagai simbol kejayaan, persatuan, dan kebersamaan.
Install SARGA.CO News
sarga.co