SARGA.CO - Hanya sedikit pejantan Jepang yang meninggalkan jejak global sedalam Deep Impact. Di Australia dan Selandia Baru, pengaruhnya terus menguat lewat generasi kedua yang kian diperhitungkan.
Contoh terbarunya adalah Sheza Alibi, kuda betina berusia empat tahun yang merupakan putri Saxon Warrior, salah satu anak Deep Impact. Dibeli hanya seharga 10.000 dolar Australia saat masih berstatus weanling (anak kuda usia 6-12 bulan), kini ia menjelma menjadi salah satu kuda papan atas Australia di level Grup 1 (G1). Kemenangan ketiganya di ajang G1, Makybe Diva Stakes di Flemington, membuat catatan Sheza Alibi menjadi delapan kemenangan dari 12 kali turun dengan total hadiah sekitar 4,3 juta dolar Australia.
Lebih penting lagi bagi industri pembiakan, ia menjadi cucu Deep Impact hasil pembiakan Australia pertama yang memenangi lomba G1.
Menurut The Straight, Deep Impact menghasilkan 33 kuda pemenang dari jumlah total yang relatif kecil, yakni 49 ekir kuda yang berlomba di Australia. Di antaranya terdapat 10 pemenang stakes dan lima pemenang G1, termasuk Real Impact, Fierce Impact, Tosen Stardom, serta Profondo. Anak-anak angkatan pertama Profondo dijadwalkan mulai turun ke lintasan pada musim ini setelah dibesarkan di Windsor Park Stud, Selandia Baru.
Sheza Alibi menandai babak berikutnya dalam kisah tersebut. Ayahnya, Saxon Warrior, adalah putra Deep Impact yang menjadi kuda kelahiran Jepang pertama yang memenangi British 2000 Guineas. Saxon Warrior juga menjuarai Racing Post Trophy sebelum memasuki karier sebagai pejantan. Ia kemudian menjalani musim pembiakan bergantian di Australia pada 2019 hingga 2022.
Secara global, Saxon Warrior telah menghasilkan 23 pemenang stakes dari 604 kuda yang berlomba dalam sembilan angkatan usia balap. Sebelum Sheza Alibi mencapai level tertinggi, satu-satunya kuda G1 individual lain yang pernah dihasilkannya adalah Victoria Road, pemenang Breeders’ Cup Juvenile Turf 2022.
Selain Saxon Warrior, Kizuna berkembang menjadi salah satu putra Deep Impact paling sukses sebagai pejantan di Jepang. Ia merupakan cabang utama lain dari garis pejantan tersebut yang telah menghasilkan lima pemenang G1. Jumlah itu berpotensi bertambah menjadi enam apabila Monroe Walk melanjutkan performa terbarunya menuju Shuka Sho.
Selain itu, Pennyweka, putri Satono Aladdin yang juga merupakan anak Deep Impact, telah memenangi Australian Oaks. Sementara itu, Pignan, putri Staphanos, mewakili cabang lain dari garis pejantan yang sama di Selandia Baru. Angkatan tertua Fierce Impact kini telah berusia empat tahun, sedangkan Lauda Sion, putra Real Impact, memiliki anak-anak berusia setahun pertamanya. Satono Aladdin dan Staphanos pun terus memperpanjang pengaruh Deep Impact di Selandia Baru.
Lalu ada Auguste Rodin, bagian dari angkatan terakhir Deep Impact, yang lahir dari Rhododendron, putri pejantan legendaris Galileo. Ia menjuarai Epsom Derby, Irish Derby, Irish Champion Stakes, dan Breeders’ Cup Turf, sehingga menjadi salah satu wakil internasional paling berprestasi dari garis keturunan tersebut. Anak-anak pertamanya kini telah lahir.
Angkatan terakhir Deep Impact di Jepang kini telah berusia enam tahun. Artinya, peluang untuk menambah catatan prestasinya secara langsung semakin menyempit. Namun, keberhasilan Sheza Alibi menunjukkan bahwa kisahnya masih jauh dari selesai.
Di tingkat internasional, Deep Impact sendiri menghasilkan 59 pemenang G1 individual. Sementara itu, para putranya kini telah menghasilkan 202 pemenang stakes, mendekati catatan 209 pemenang stakes yang dibukukan Deep Impact sepanjang kariernya sebagai pejantan.
Dengan Saxon Warrior, Kizuna, Profondo, Auguste Rodin, serta para putra dan cucu lainnya yang kini mengambil tempat dalam peta pembiakan, pengaruh Deep Impact berkembang pesat menjadi warisan lintas generasi dan tidak lagi bergantung pada dirinya semata. Pada akhirnya, inilah yang mungkin menjadi ukuran terbesar dari warisannya.
Garis keturunan Deep Impact di kancah internasional juga sampai ke Tanah Air. Lewat perkawinannya dengan Loves Only Me, dia punya anak Langley yang lahir pada tahun 2011.
Kuda Thoroughbred jantan berwarna merah itu kini meneruskan garis keturunan di IHR. Mengutip data Studbook Indonesia, ada 11 keturunan dari Langley sampai sejauh ini. Mulai dari Belissima Tonesa dan Maverick (2020), kemudian ada Alleluia Tonesea dan Duke Tonsea (2021). Paling banyak, pada tahun 2023 ada enam keturunan Langley; Sardonyx Tonsea, Atlantis Kingdom, Lord Tonsea, Madaglia Tonsea, Raja Asmara, dan Monocrat Style.
Kuda kelahiran 2023 itu akan masuk ke usia 3 tahun untuk bertarung di Kelas Remaja dan Derby pada musim 2027 mendatang.
Install SARGA.CO News
sarga.co