SARGA.CO - Namanya tak sementereng Forever Young, potensinya pun tak tersorot tajam seperti Croix du Nord. Namun, Masquerade Ball selalu tampil gemilang dan menjadi penantang di hampir setiap race yang dia ikuti.
Ketimbang rangkaian kemenangan, namanya lebih akrab dengan “nyaris” menang, terutama di panggung besar. Kuda berusia empat tahun itu kerap menjadi ancaman di setiap pacuan yang dia ikuti.
Di usia tiga tahun, kuda Thoroughbred asal Jepang ini berulang kali berdiri di ambang kejayaan.
Di Satsuki Sho, ia finis ketiga. Di Tokyo Yushun, ia kembali nyaris, kali ini sebagai runner-up. Dua balapan klasik itu memperlihatkan pola yang sama: Masquerade Ball selalu ada di sana, menempel ketat, tapi selalu tertinggal sepersekian di garis akhir.
Di Tenno Sho (Autumn) 2025, semua potensi yang ia janjikan akhirnya mengemuka. Dari posisi menunggu di tengah rombongan, Masquerade Ball menemukan celah di saat yang tepat—lalu melesat. Kemenangan itu bukan sekadar G1 pertama, tapi pernyataan bahwa ia bukan lagi “nyaris”.
Namun peran sejati untuknya memang penantang. Di Japan Cup 2025, ia kembali menghadapi unggulan terbesar dari yang terbaik di dunia.
Hasilnya? Kalah tipis dari Calandangan, kuda terbaik dunia 2025. Jarak antara dua kuga ini tak sampai 0,1 detik, hanya berselisih 1/2 kepala kuda.
Kekalahan itu tidak terasa seperti kemunduran. Sebaliknya, itu seperti garis tipis yang memisahkan “penantang” dari “raja”—dan Masquerade Ball kini berdiri tepat di garis itu.
Dilatih oleh Takahisa Tezuka dan membawa warna Shadai Race Horse Co Ltd, Masquerade Ball bukan hanya kuda dengan statistik. Ia adalah narasi yang terus berkembang—tentang kegagalan yang membentuk, tentang momentum yang akhirnya datang, dan tentang ambisi yang belum selesai.
Kini, bersiap menuju Queen Elizabeth II Cup, di lapangan pacu Sha Tin, Hong Kong, Masquerade Ball siap menantang kuda-kuda unggulan. Pertanyaannya, apakah ini akan menjadi momen juara, atau tetap menjadi ‘nyaris’?
Install SARGA.CO News
sarga.co