SARGA.CO - Proses breeding kuda mungkin terlihat sekadar mempertemukan pejantan unggul dan betina andal untuk kemudian kawin dan menghasilkan anakan. Namun, di lapangan proses yang terkesan sederhana itu perlu dilakukan dengan proses medis yang detail serta hitung-hitungan matematis agar anak bisa lahir di sekitar bulan pertambahan usia kuda pacu.
Pemilik Bendang Stable Mario Bahar sempat menjabarkan proses breeding yang biasa dia lakukan di peternakannya di Tompaso, Sulawesi Utara.
Soal kualitas kuda pacu, Bendang bisa dibilang salah satu yang paling elite. Zilong Rimboka, pemenang Indonesia Derby 2026 adalah 'alumni' Bendang Stable. Jangan lupa juga nama-nama seperti Surya Nagari, Suko Nagari, Sunspear Nagari, Minasari, Sakura Nagari, Lyana Nagari yang merupakan kuda-kuda andal dari peternakan Sulawesi Utara itu.
dok. Mario Bahar
Usia kuda pacu bertambah setiap memasuki bulan Agustus setiap tahunnya. Oleh sebab itu kuda pacu yang punya tanggal lahir semakin dekat dengan awal Agustus bisa mendapat keuntungan biologis, terutama kalau diproyeksikan bertarung di kelas umur.
Mengingat usia hamil kuda sekitar 11 bulan, antara 320 hingga 370 hari (paling umum 340 hari), hitungan sederhananya September sebagai waktu paling ideal untuk kuda kawin.
Lahir di awal pergantian tahun kuda artinya pertumbuhannya juga paling ideal. Tapi menurut Mario dari Bendang, kuda lahir sampai Desember tahun itu masih cukup ideal. "Yang telat itu kalau sudah Januari-Februari," tuturnya saat bercerita ke SARGA, Kamis, 11 September 2026.
Kasus seperti itu biasanya bisa terjadi akibat indukan yang tak kujung positif hamil. "Kawin kuda kan ga semudah itu juga hamilnya. Ada yg bisa langsung, ada yang perlu kawin beberapa kali," tambah Mario.
Di Bendang Stable, biasanya upaya kawin kuda akan dicoba dari Agustus-Februari tahun berikutnya. Dengan begitu, paling terlambat kuda yang lahir di Bendang Stable akan lahir pada bulan Februari setahun setelahnya.
cerita Mario tentang hitungan waktu kawin yang biasa diterapkan di Bendang Stable.
Selesai urusan hitung-hitungan, kondisi kuda, terutama indukan perlu mendapat perhatian. Umumnya kunda induk yang akan kawin akan melalui tahap ultrasonografi alias USG. Mirip seperti pada manusia, proses menggunakan gelombang suara berfrekuensi tinggi ini dilakukan untuk menghasilkan gambar atau citra dari organ dan jaringan di dalam tubuh.
Tapi, metodenya yang sedikit berbeda dengan USG pada manusia. "Dia pakai probe gitu, dimasukkan ke Anus," terang Mario.
Di Bendang, biasanya kuda yang akan kawin akan melalui proses USG sebelum dan sesudah masa kawin. Lebih lanjut untuk mendapat hasil yang meyakinkan, Mario juga biasanya melakukan proses USG 3-4 kali.
Biasanya sebelum kawin kalau di bendang itu bisa di usg 3-4x. Proses ini dilakukan sebagai upaya memaksimalkan proses breeding. "Mencari puncak dari birahinya, kapan sel telurnya paling besar dan siap di buahi," terang Mario tentang persiapan proses breeding itu.
Selain itu proses USG berulang yang dilakukan dengna teliti itu juga untuk mengukur sel telur sang induk dan memastikan tidak adanya gangguan dalam tubuh. Di uterus induk juga akan terlihat apakh lendir birahunya sudah cukup.
Tak berhenti sampai di situ, usai kuda kawin, proses USG juga kembali dilakukan untuk memastikan si induk sudah bunting atau belum. Tapi proses ini tidak instan, "Sesudah kawin paling cepat kelihatan [hamil atau tidak] itu 10 hari, itupun masih kecil (embrionya), yang lebih jelas itu kalau sudah sekitar 18 hari," terang Mario.
Dengan kondisi seperti itu, kuda yang kemudian kawin tapi tak menjadi benih di rahimnya akan hilang waktu sekitar 1 bulan. Dari situ proses panjang nan detail ini harus diulang kembali sampai kemudian perkawinan kuda pacu menghasilkan calon anakan kuda di rahim induk.
Terlepas dari kesulitan prosesnya dan hitung-hitungan masa kawin kuda, faktor biaya juga perlu mendapat perhitungan. Biaya terbesar biasanya adalah jasa pejantan atau stud fee.
Mario mengatakan hal tersebut tidak menjadi perhitungan di Bendang, sebab mereka punya pejantan unggul sendiri. Tapi dia menakar kalau di stable-stable Pulau Jawa, biayanya bisa mencapai Rp10 juta-Rp50 juta untuk sekali kawin. Itupun belum tentu sang induk langsung hamil
"Yang banyak di kisaran Rp25 juta-Rp30 juta," tutur Mario soal stud fee yang umum di Pulau Jawa, berdasar pengalamannya.
Jangan lupa juga untuk USG yang tak gratis. Kembali di kasus Bendang, nilainya bisa dinihilkan sebab mereka biasa melakukannya secara mandiri. "Kalau di Jawa biasanya satu kali USG Rp400 ribu-Rp500 ribu," tutur Mario.
Biaya itu juga belum menghitung biaya merawat si calon indukan sepanjang tahun, serta biaya transportasi yang mungkin muncul untuk mempertemukan pejatan dengan indukan.
Jadi proses breeding kuda pacu tidak sesederhana mengawinkan pejantan unggul dengan betina andal. Ada beragam faktor di dalamnya yang perlu dipersiapkan dan diperhitungkan dengan matang.
Install SARGA.CO News
sarga.co