SARGA.CO - Dalam dunia pacuan kuda, ada banyak legenda yang dikenang karena berhasil meraih Triple Crown. Namun ada satu nama yang tetap abadi meski gagal menyempurnakan pencapaian tersebut. Namanya adalah Native Dancer, sang “Grey Ghost of Sagamore” atau Hantu Abu-Abu dari Sagamore.
Native Dancer bukanlah kuda biasa. Sepanjang kariernya, ia tampil dalam 22 balapan dan memenangkan 21 di antaranya. Satu-satunya kekalahan yang ia alami justru datang pada balapan paling bergengsi di Amerika Serikat, Kentucky Derby 1953. Kekalahan itu hanya terpaut selisih kepala dari pemenang bernama Dark Star.
Banyak pengamat pacuan kuda meyakini bahwa jika Native Dancer berhasil memenangkan Kentucky Derby tersebut, namanya akan sejajar dengan para peraih Triple Crown legendaris seperti Secretariat, Citation, Affirmed, dan Seattle Slew.
Lahir pada 27 Maret 1950 dan dibesarkan di Sagamore Farm, Maryland, Native Dancer dimiliki sekaligus dibesarkan oleh Alfred G. Vanderbilt II. Dengan warna abu-abu yang mencolok, ia dengan cepat menjadi idola publik Amerika.
Menariknya, Native Dancer dianggap sebagai salah satu kuda pacu pertama yang meraih popularitas nasional berkat siaran televisi. Pada era ketika televisi mulai berkembang pesat di Amerika Serikat, aksinya di lintasan berhasil menarik perhatian jutaan penonton dan mengangkat popularitas olahraga pacuan kuda ke tingkat yang lebih tinggi.
Sebagai kuda berusia dua tahun, Native Dancer tampil sempurna dengan memenangkan sembilan balapan dari sembilan kali start. Prestasi tersebut membuatnya dinobatkan sebagai Champion 2-Year-Old Colt sekaligus Horse of the Year pada 1952.
Kekalahan yang Terus Dikenang
Memasuki musim 1953, Native Dancer datang ke Kentucky Derby sebagai favorit mutlak. Banyak orang menganggap balapan itu hanya akan menjadi seremoni penobatan menuju Triple Crown.
Namun nasib berkata lain. Di tikungan pertama, Native Dancer mengalami gangguan perjalanan sehingga kehilangan posisi ideal. Meski mampu bangkit dan mengejar di lintasan lurus terakhir, ia gagal menyusul Dark Star dan finis kedua hanya terpaut satu kepala. Kekalahan itulah yang menjadi satu-satunya noda dalam kariernya yang nyaris sempurna.
Hebatnya, Native Dancer langsung bangkit setelah kekalahan tersebut. Ia memenangkan Preakness Stakes dan Belmont Stakes, sehingga tetap mengamankan dua dari tiga seri Triple Crown Amerika.
Karier balap Native Dancer berakhir dengan rekor luar biasa, 21 kemenangan dari 22 start dan total pendapatan sebesar 785.240 dolar AS, angka yang sangat besar pada masanya. Ia kemudian pensiun sebagai pejantan dan memberikan pengaruh yang bahkan lebih besar dibanding karier balapnya.
Darah Native Dancer mengalir dalam banyak silsilah kuda-kuda juara dunia. Melalui keturunannya seperti Raise a Native, ia menjadi leluhur bagi sejumlah legenda pacuan modern, termasuk garis keturunan yang menghasilkan para pemenang Triple Crown di era berikutnya.
Tak heran jika Native Dancer akhirnya masuk ke Hall of Fame Amerika Serikat pada 1963 dan hingga kini masih dianggap sebagai salah satu Thoroughbred paling berpengaruh sepanjang masa.
Meski gagal meraih Triple Crown, warisan Native Dancer justru membuktikan bahwa sebuah legenda tidak selalu diukur dari kesempurnaan. Kadang, satu kekalahan yang nyaris tak terlihat justru membuat kisahnya semakin abadi. Sang "Grey Ghost" mungkin kehilangan satu balapan, tetapi ia memenangkan tempat istimewa dalam sejarah pacuan kuda dunia.
(Sumber: Amricas Best Racing)
Install SARGA.CO News
sarga.co