SARGA.CO — Dunia pacuan kuda tak hanya tentang kemenangan dan kejayaan. Ada momen-momen pilu yang membekas seumur hidup, salah satu yang paling memilukan terjadi pada 2006, saat Edgar Prado harus menyaksikan kuda yang ia tunggangi, Barbaro, terjatuh dan mengalami cedera parah di ajang Preakness Stakes.
Hanya dua pekan sebelumnya, pasangan ini berdiri di puncak dunia usai menjuarai Kentucky Derby 2006 dengan dominasi luar biasa. Barbaro digadang-gadang sebagai calon kuat peraih Triple Crown, prestasi langka dalam sejarah pacuan kuda.
Namun harapan itu runtuh dalam hitungan detik. Sesaat setelah pintu start terbuka di Preakness Stakes 2006, Barbaro mengalami patah tulang fatal di kaki belakang kanannya, lebih dari 20 bagian. Edgar Prado langsung menyadari ada yang tidak beres dan dengan cepat menghentikan laju kuda tersebut, sebuah keputusan yang kemudian dipuji sebagai upaya menyelamatkan nyawa Barbaro.
Di tengah gemuruh penonton yang berubah menjadi hening, kamera menangkap ekspresi Prado, wajah seorang joki berpengalaman yang hancur melihat partnernya terkapar di lintasan.
Setelah insiden itu, Barbaro menjalani serangkaian operasi intensif. Para dokter berusaha menyatukan kembali tulang-tulangnya, dan sempat muncul harapan ketika proses pemulihan menunjukkan perkembangan positif.
Namun, komplikasi pascaoperasi perlahan memperburuk kondisinya. Infeksi dan masalah lanjutan membuat perjuangan Barbaro semakin berat.
Pada akhirnya, pada 29 Januari 2007, pemiliknya, Roy dan Gretchen Jackson, mengambil keputusan sulit.Barbaro harus di-eutanasia demi mengakhiri penderitaannya.
Bagi Edgar Prado, tragedi itu bukan sekadar insiden di lintasan, melainkan luka emosional yang tak pernah benar-benar hilang. Setelah puluhan tahun berkarier di dunia pacuan kuda, momen tersebut menjadi salah satu yang paling membekas dalam hidupnya.
Kisah Barbaro bukan hanya tentang kehilangan, tetapi juga tentang ikatan kuat antara joki dan kuda, tentang kepercayaan, perjuangan, dan cinta terhadap olahraga yang penuh risiko ini.
Di balik gemerlap kemenangan, dunia pacuan kuda juga menyimpan cerita duka. Dan bagi Edgar Prado, hari itu di Preakness bukan hanya akhir sebuah balapan, melainkan awal dari kenangan yang akan ia bawa seumur hidup.
(Sumber: American Horseracing Legends's)
Install SARGA.CO News
sarga.co