SARGA.CO – Touareq telah menyelesaikan perjalanan panjangnya. Kuda pejantan Thoroughbred Indonesia tersebut tutup usia pada 22 tahun setelah dalam beberapa waktu terakhir mengalami penurunan kondisi fisik.
Kabar tersebut dikonfirmasi Ibnu Faris, pemilik Berkah Stud & Racing Stable. “Iya betul meninggal, karena sakit,” ujar Ibnu kepada SARGA News.
Menurut Ibnu, kondisi bagian pinggang dan pinggul kiri Touareq semakin melemah, disertai penyusutan otot. Hingga akhirnya, Touareq kesulitan berdiri dan tidak mampu bangkit kembali. Namun, perjalanan Touareq tidak berhenti di sana. Jejaknya justru terus hidup melalui keturunannya.
Dari Pamulang ke Sumatera Barat
Touareq sebelumnya berada di sebuah stable di Pamulang, kemudian berpindah kepemilikan ke Tegalwaton. Berkah Stud & Racing Stable kemudian mengambil alih Touareq pada 2013, sebelum membawanya ke Sumatera Barat pada 2015.
Saat itu, Sumatera Barat tengah mengalami kekurangan pejantan. Touareq pun mendapat peran penting dalam program breeding dan selama bertahun-tahun menghasilkan keturunan untuk memperkuat generasi kuda pacu nasional.
“Dulu kuda ini ada di stable di Pamulang, kemudian beralih kepemilikan di Tegalwaton. Setelah itu barulah menjadi bagian dari kami,” kenang Ibnu.
Touareq merupakan anak dari P. Sabeil, Thoroughbred asal Selandia Baru, dan Star Sovereign, Thoroughbred Indonesia
Warisan yang Terus Berlari
Selama menjadi pejantan, Touareq menghasilkan sejumlah keturunan yang kemudian menghiasi dunia pacuan kuda nasional, di antaranya Sir Orbit, Guti Spirit, Nilam Bukati, Cahaya Delima, hingga Zara Dynamite.
Bagi dunia breeding, warisan tersebut menjadi bagian paling penting dari perjalanan Touareq. Kini sang pejantan telah pergi. Namun, darah dan keturunannya masih akan terus berlari di lintasan, membawa nama Touareq dalam cerita panjang perkembangan pacuan kuda Indonesia.
Install SARGA.CO News
sarga.co