SARGA.CO – Sebelum dikenal sebagai sosok kutu buku yang pendiam dalam game Uma Musume: Pretty Derby, Zenno Rob Roy lebih dulu menorehkan kisah luar biasa di dunia pacuan kuda Jepang.
Kuda kelahiran 27 Maret 2000 itu sempat mendapat julukan “Mikan no Taiki” atau “The Incomplete Talent”. Bukan karena kurang berbakat, tetapi karena meski konsisten bersaing di level tertinggi, ia selalu kesulitan memenangkan balapan besar.
Sampai akhirnya, musim gugur 2004 mengubah semuanya.
Zenno Rob Roy mengawali 2004 dengan hasil yang cukup membuat frustrasi. Ia beberapa kali finis sebagai runner-up, termasuk di Tenno Sho (Spring), Nikkei Sho, dan Kyoto Daishoten.
Namun, titik balik datang pada Tenno Sho (Autumn), 31 Oktober 2004.
Berstatus favorit, Zenno Rob Roy akhirnya meraih kemenangan G1 pertamanya setelah mengalahkan Dance in the Mood dengan keunggulan 1¼ panjang.
Empat minggu kemudian, ia kembali tampil luar biasa. Kali ini di Japan Cup, Zenno Rob Roy menang tiga panjang atas Cosmo Bulk.
Dua kemenangan G1 dalam waktu kurang dari sebulan membuat satu pencapaian besar berada di depan mata: Arima Kinen.
Pada 26 Desember 2004, Zenno Rob Roy turun di Arima Kinen. Ia harus menghadapi Tap Dance City yang dikenal sebagai pelari depan.
Zenno Rob Roy menunggu di belakang sebelum secara bertahap meningkatkan posisi. Memasuki fase akhir, ia mengejar Tap Dance City dan akhirnya melewatinya untuk menang dengan selisih setengah panjang.
Yang membuat kemenangan tersebut semakin istimewa adalah waktunya: 2 menit 29,5 detik untuk jarak 2.500 meter.
Catatan tersebut menjadi rekor Arima Kinen dan hingga 2026 masih belum terpecahkan.
Dengan kemenangan itu, Zenno Rob Roy menjadi kuda kedua setelah T.M. Opera O yang berhasil menyapu Autumn Triple Crown—tiga balapan besar Tenno Sho (Autumn), Japan Cup, dan Arima Kinen.
JRA kemudian menobatkannya sebagai Horse of the Year dan Best Older Male Horse 2004.
Zenno Rob Roy masih mencoba peruntungan di level internasional pada 2005. Ia finis runner-up di Juddmonte International Stakes di York, kalah tipis dari Electrocutionist.
Setelah kembali ke Jepang, performanya mulai menurun. Ia finis kedua di Tenno Sho (Autumn), ketiga di Japan Cup, lalu mengakhiri karier dengan posisi kedelapan di Arima Kinen.
Meski begitu, rekor kariernya tetap mengesankan: 20 start, tujuh kemenangan, enam kali runner-up, dan empat kali finis ketiga.
Zenno Rob Roy kemudian pensiun dan menjalani karier sebagai pejantan di Shadai Stallion Station. Ia menghasilkan sejumlah kuda berprestasi, termasuk Saint Emilion yang memenangkan Japanese Oaks 2009.
Zenno Rob Roy meninggal pada 2 September 2022 akibat gagal jantung pada usia 22 tahun. Namun, namanya tetap hidup melalui keturunan dan kisahnya di dunia pacuan.
Menariknya, perjalanan Zenno Rob Roy kemudian dihidupkan kembali melalui karakter di Uma Musume: Pretty Derby. Dalam game tersebut, Zenno Rob Roy digambarkan sebagai sosok pendiam yang gemar membaca dan menjadi bagian dari komite perpustakaan Tracen Academy. Di balik sifat tenangnya, ia memiliki impian untuk menjadi pahlawan dalam ceritanya sendiri.
Karakter tersebut memiliki hubungan kuat dengan kisah nyata sang kuda. Namanya terinspirasi dari Rob Roy MacGregor, pahlawan rakyat Skotlandia, sementara perjalanan karakternya mencerminkan transformasi Zenno Rob Roy dari “bakat yang belum lengkap” menjadi Horse of the Year.
Di dunia nyata, Zenno Rob Roy membutuhkan waktu cukup lama untuk menemukan momen terbaiknya. Namun ketika kesempatan itu datang, ia tidak menyia-nyiakannya.
Dalam rentang hanya dua bulan, ia memenangkan tiga G1, menyapu Autumn Triple Crown, mencetak rekor Arima Kinen, dan dinobatkan sebagai kuda terbaik Jepang pada 2004.
Dari “The Incomplete Talent” menjadi seorang juara. Dari arena pacuan hingga dunia game. Kisah Zenno Rob Roy membuktikan bahwa terkadang, seorang calon legenda hanya membutuhkan satu momen untuk akhirnya menunjukkan siapa dirinya. (Sumber: JRA, Umamusume Fandom)
Install SARGA.CO News
sarga.co