SARGA NEWS - Istilah "Triple Crown" (Tiga Mahkota) di Jepang punya beragam tafsiran. Lebih tepatnya, Negeri Sakura punya sejumlah rangkaian lomba tematik agar kuda-kuda pacu di sana punya beragam jalur untuk meraih Triple Crown.
Di berbagai penjuru Jepang, ada banyak rangkaian Triple Crown yang sengaja dibentuk lengkap dengan insentif finansial yang menggiurkan. Tujuannya adalah untuk mendorong dan mengapresiasi keunggulan kuda-kuda terbaik di berbagai seri balapan, wilayah, kelompok umur, hingga disiplin pacuan yang berbeda.
Tetap menjadi yang paling bergengsi, tiga balapan dalam Classic Triple Crown memiliki jarak tempuh yang terus meningkat di sepanjang musim. Format ini dirancang untuk menguji setiap aspek kemampuan fisik kuda Thoroughbred muda. Rangkaian ini terdiri dari Satsuki Sho (2.000 meter), Japanese Derby (2.400 meter), dan Kikuka Sho (3.000 meter).
Hanya kelompok kecil berisi kuda-kuda legendaris yang mampu menyapu bersih kemenangan di ketiga ajang ini, menjadikannya salah satu pencapaian tertinggi dalam sejarah pacuan kuda Jepang. Sejak tahun 2023, kuda apa pun yang berhasil memenangkan ketiga balapan tersebut akan diganjar bonus sebesar 300 juta Yen.
Sistem bonus ini juga berlaku untuk kuda yang mampu memenangkan Senior Spring Triple Crown informal (Osaka Hai, Tenno Sho Musim Semi, Takarazuka Kinen) atau Senior Autumn Triple Crown (Tenno Sho Musim Gugur, Japan Cup, Arima Kinen). Hingga saat ini, belum ada satu pun kuda yang berhasil menyapu bersih seri musim semi, sementara baru dua kuda yang berhasil memenangkan seri musim gugur.
Dikenal juga dengan julukan Triple Tiara. Triple crown versi khusus kuda betina (fillies) ini terdiri dari Oka Sho (1.600 meter), Japanese Oaks (2.400 meter), dan Shuka Sho (2.000 meter).
Berbeda dengan Classic Triple Crown, Triple Tiara baru menemukan bentuk modernnya pada tahun 1990-an. Secara historis, kuda-kuda betina sering kali mencoba peruntungan di Kikuka Sho setelah berlaga di Oka Sho dan Oaks, mengikuti tradisi Triple Tiara di Inggris. Awalnya, Victoria Cup dan kemudian Queen Elizabeth II Cup sempat berfungsi sebagai leg ketiga sebelum akhirnya Shuka Sho diperkenalkan pada tahun 1996 untuk menciptakan seri yang kita kenal sekarang.
Karena jarak tempuhnya cenderung lebih pendek daripada Classic Triple Crown, sebagian pengamat menilai Triple Tiara sedikit lebih mudah untuk digapai. Kendati demikian, gelar ini tetap menjadi salah satu kehormatan tertinggi bagi kuda betina berusia tiga tahun, dan para pemenangnya sejak tahun 2023 berhak membawa pulang bonus 100 juta Yen.
Triple Crown nasional terbaru di Jepang ini juga menjadi salah satu yang paling ambisius. Pertama kali diumumkan pada tahun 2022 dan resmi diluncurkan pada 2024, Dirt Triple Crown terdiri dari Haneda Hai, Tokyo Derby, dan Japan Dirt Classic.
Dikelola oleh National Association of Racing (NAR), seri ini diciptakan untuk memfasilitasi kuda-kuda spesialis lintasan tanah/pasir (dirt specialists) agar memiliki jalur kejuaraan mereka sendiri. Haneda Hai dan Tokyo Derby kini telah ditingkatkan statusnya menjadi G1 dan dibuka untuk peserta dari seluruh Jepang, sementara Japan Dirt Derby diubah namanya menjadi Japan Dirt Classic dan digeser ke bulan Oktober.
Meskipun sebelumnya ada tiga kuda yang berhasil menyapu bersih South Kanto Triple Crown yang lama—termasuk Mick Fire pada tahun 2023—pencapaian tersebut tidak diakui secara resmi di bawah format Dirt Triple Crown yang baru. Artinya, seri modern ini masih menanti juara pertamanya. Kuda pertama yang berhasil melakukannya akan mengantongi bonus sebesar ¥80 million.
Gelar Triple Crown tidak hanya terbatas pada sirkuit balap nasional Jepang. Banyak organisasi balap regional yang mengembangkan seri kejuaraan mereka sendiri untuk mempromosikan kompetisi lokal dan menyaring kuda-kuda terbaik di setiap generasi.
Setiap seri mencerminkan tradisi dan budaya pacuan di wilayahnya masing-masing, sekaligus memberikan target besar yang prestisius bagi kuda-kuda lokal.
- Hokkaido Triple Crown (Hokuto Hai, Hokkai Yushun, Oukan Sho)
- Southern Kanto Triple Tiara (Urawa Oka Sho, Tokyo Princess Sho, Kanto Oaks)
- Tokai Triple Crown (Shuntei Sho, Tokai Yushun, Gifu Kinsho)
- Kochi Triple Crown (Kuroshio Satsuki Sho, Kochi Yushun, Kuroshio Kikuka Sho)
- Saga Triple Crown (Saga Satsuki Sho, Eijo Sho, Lotus Crown Sho)
- Kanazawa Triple Crown, yang bahkan telah berkembang menjadi Quadruple Crown (Empat Mahkota), di mana kuda betina berpotensi meraih gelar Quintuple Crown (Lima Mahkota) tingkat regional.
Uniknya, Jepang bahkan memiliki Triple Crown dalam ajang Ban'ei Racing, salah satu bentuk pacuan kuda paling tidak biasa di dunia. Berbeda dengan balapan Thoroughbred pada umumnya, kuda-kuda Ban'ei harus menarik kereta seret berbobot berat melewati lintasan pasir berundak. Format ini menguji kekuatan otot, daya tahan, dan kelihaian kusir sama besarnya dengan kecepatan murni kuda itu sendiri.
Ban'ei Racing saat ini menyediakan Triple Crown terpisah untuk kategori kuda berusia dua tahun, tiga tahun, dan empat tahun. Kejuaraan ini telah menjelma menjadi salah satu kehormatan tertinggi dalam disiplin tersebut dan menampilkan sisi yang sepenuhnya berbeda dari industri pacuan kuda di Jepang.
Meskipun Classic Triple Crown tetap menjadi gelar yang paling memikat imajinasi para pencinta pacuan kuda di seluruh dunia, ajang ini hanyalah satu bab dari kaya dan luasnya tradisi balap di Jepang.
Dari ajang elite JRA Classics hingga kejuaraan regional dan dunia unik Ban'ei racing, konsep Triple Crown—baik di atas rumput (turf), tanah (dirt), maupun pasir—telah berevolusi menjadi sebuah perayaan atas keunggulan di setiap level olahraga ini.
Install SARGA.CO News
sarga.co