SARGA.CO – Delapan tahun setelah sang ayah, Le Vent Se Leve, menjuarai Japan Dirt Derby, Silver Ratio meneruskan jejaknya dengan merebut Japan Dirt Classic 2026 di Ohi Racecourse, 7 Oktober. Tampil di JpnI G1 sejauh 2.000 meter, kuda tiga tahun itu tampil impresif dengan bangkit dari posisi belakang dan melancarkan serangan tajam di lintasan lurus hingga meraih kemenangan.
Silver Ratio melesat dari sisi luar dan berhasil melewati Wonder Dean untuk menang dengan keunggulan satu panjang. Cherry Vent finis ketiga, disusul Sun Lazar di posisi keempat.
Kemenangan tersebut menjadi gelar JpnI G1 pertama bagi Silver Ratio sekaligus kemenangan graded keduanya sepanjang 2026, setelah sebelumnya menjuarai Unicorn Stakes. Hingga kini, ia telah mengoleksi empat kemenangan dari sembilan start.
Tampil dengan Joki Pengganti
Kemenangan Silver Ratio semakin menarik karena ia tidak ditunggangi joki regulernya, Mirai Iwata, yang sedang menjalani hukuman larangan bertanding.
Takeshi Yokoyama dipercaya menggantikan Iwata. Meski belum pernah menunggangi Silver Ratio dalam balapan, Yokoyama sudah mengenal sang kuda dari sesi latihan dan mendapat informasi langsung dari Iwata mengenai karakter serta kebiasaannya.
Yokoyama sempat mengaku khawatir ketika Silver Ratio masih berada di belakang pada fase awal. Namun, keraguan itu terjawab ketika sang kuda mulai bergerak memasuki tikungan terakhir.
“Saya sangat senang mendapat kesempatan menjadi joki pengganti. Setelah dipercaya menjalankan peran penting ini, saya ingin memberikan hasil apa pun yang terjadi,” ujar Yokoyama seperti dikutip Radio Nikkei. Ia juga menilai Silver Ratio masih memiliki ruang besar untuk berkembang.
Meneruskan Jejak Sang Ayah
Kemenangan ini memiliki nilai sejarah tersendiri. Silver Ratio merupakan putra Le Vent Se Leve, pemenang Japan Dirt Derby 2018.
Japan Dirt Derby kemudian mengalami perubahan besar sebagai bagian dari restrukturisasi pacuan kuda dirt Jepang. Sejak 2024, balapan tersebut berganti nama menjadi Japan Dirt Classic dan menjadi balapan penutup Japan Dirt Triple Crown untuk kuda usia tiga tahun.
Dengan demikian, Silver Ratio kini mengikuti jejak ayahnya dengan memenangkan versi modern dari balapan tersebut.
Menariknya, Silver Ratio sebelumnya juga finis runner-up di Tokyo Derby setelah mencatat waktu tercepat pada 600 meter terakhir. Setelah itu, ia berhasil membalas kekalahan tersebut dalam pertemuan berikutnya.
Mimpi Triple Crown Finger Terhenti
Di balik kemenangan Silver Ratio, ada cerita pahit bagi Finger.
Finger datang ke Japan Dirt Classic dengan peluang mencetak sejarah sebagai pemenang pertama Japan Dirt Triple Crown. Ia sebelumnya telah memenangkan Haneda Hai dan Tokyo Derby.
Namun, ambisi tersebut berakhir setelah Finger hanya mampu finis di posisi kesembilan.
Finger sebenarnya tampil agresif sejak awal dan terlibat dalam persaingan memperebutkan posisi depan. Namun, tempo cepat akhirnya menguras tenaganya dan ia kehilangan posisi ketika memasuki lintasan lurus.
Dengan hasil tersebut, Japan Dirt Triple Crown masih belum memiliki pemenang setelah tiga edisi.
Sementara bagi Silver Ratio, kemenangan di Ohi menjadi awal dari babak baru. Ia bukan hanya membawa pulang gelar G1 pertamanya, tetapi juga meneruskan warisan sang ayah.
Jika perkembangannya terus berlanjut seperti yang diyakini Yokoyama, Japan Dirt Classic 2026 mungkin baru menjadi awal dari perjalanan besar Silver Ratio. (Sumber: Nikkan Sport, Netkeiba)
Install SARGA.CO News
sarga.co