SARGA.CO - Pacuan kuda menjadi olahraga yang secara historis maskulin. Tradisi balap di sejumlah wilayah yang kental dengan budaya berkuda; Inggris, Timur Tengah, Amerika Serikat, dominan oleh laki-laki baik sebagai pemilik, pelatih, hingga joki.
Padahal arena pacuan kuda sebenarnya sangat inklusif. Perempuan dan laki-laki dapat bersaing secara langsung dalam satu lomba.
Sebagai olahraga yang tak mengedepankan kekuatan fisik semata, unsur teknik, keseimbangan, serta chemistry dengan kuda lebih penting dan membuka kesempatan untuk persaingan lintas gender.
Sejarah juga mencatat semakin banyak perempuan yang terlibat dan bahkan menjadi legenda dalam lintas pacu. Berikut beberapa nama perempuan yang mengubah industri balap kuda, baik dari dalam maupun luar lintasan pacu.
Diane Crump
Namanya menjadi pionir penting bagi perempuan untuk tampil di panggung balap kuda. Pada 1969, ia menjadi perempuan pertama yang menunggang kuda secara profesional di Amerika Serikat, lalu setahun kemudian mencatat sejarah sebagai joki perempuan pertama yang melintas di Kentucky Derby.
Julie Krone
Melanjutkan jejak Crump, sekitar 20 tahun kemudian. Pada 1993 dia menjadi perempuan pertama yang memenangkan balapan Triple Crown di Belmont Stakes. Dia juga menjadi perempuan pertama yang masuk Racing Hall of Fame pada tahun 2000
Michelle Payne
Di era yang lebih modern, Michelle Payne menembus dimensi baru dengan menjuarai Melbourne Cup 2015. Kemenangan itu kian berkesan mengingat kian banyak pihak yang meragukan keandalannya di lintas pacu.
Cheryl White
Nama Cheryl White membelah batas lain. Pada tahun 1971, di usia 17 tahun, dia mencatat sejarah sebagai joki perempuan kulit hitam pertama di AS, membuka jalan bagi representasi yang lebih luas dalam olahraga ini. Sepanjang 21 tahun kariernya, tak kurang dari 750 perlombaan dia menangkan.
Di Indonesia sosok joki perempuan juga mulai ditemukan, sosol Najla Al Blakis asa; Padang Panjang, Sumatra Barat sempat merebut perhatian setelah menjuarai Derby Wisata 2025, pada momen debutnya. Ada juga sosok Aqillah Annajiibah, joki wanita yang berlaga di Kejuaraan Nasional Pacuan Kuda Seri 1 2024.
Tak hanya di atas pelana, prestasi perempuan juga kian menonjol di luar arena pacuan. Dari pemilik kuda pacu, sampai dengan lewat sastra para perempuan ini mengubah perspektif melihat perempuan dalam pacuan kuda.
Penny Chenery
Pemilik sekaligus breeder kuda legendaris Secretariat, menjadi salah satu perempuan pertama yang masuk The Jockey Club, institusi elit dalam dunia balap. Gelar "First Lady of Racing" kian akrab menempel dengan namanya.
Queen Elizabeth II
Nama yang mungkin tidak asing bagi kebanyakan kita. Ratu Inggris ini dikenal sebagai pemilik kuda, dengan lebih dari 1.600 kemenangan. Dia juga merupakan "British Flat Racing Champion Owner" pada tahun 1954 dan 1957.
Anna Sewell
Dampak perempuan di industri berkuda juga dapat ditorehkan lewat goresan pena. Anna Sewell lewat karyanya Black Beauty, pada tahun 1877, membantu memicu gerakan kesejahteraan hewan modern.
Temple Grandin
Terdapat pula sosok dokter hewan Tempel Grandin yang merevolusi cara penanganan hewan ternak yang lebih manusiawi, termasuk dalam industri pacuan kuda.
Laporan: Alfons Yoshio
Install SARGA.CO News
sarga.co