SARGA.CO – Pengembangan breeding atau pembiakan kuda di Indonesia terus diarahkan menuju praktik yang semakin modern dan terukur. Salah satu langkahnya dilakukan PP PORDASI melalui seminar Advanced Equine Reproduction yang membahas pemanfaatan teknologi reproduksi, termasuk inseminasi buatan.
Hadir sebagai narasumber drh Aulia Mifthakur Rahman dan drh Widyastuti Pratiwi Suryadi. Keduanya sebelumnya telah mengikuti Artificial Insemination Scholarships for Practicing Equine Veterinarians yang diselenggarakan di La Jumenterie du Pin, Prancis, sebagai tidak lanjut kerja sama strategis antara PORDASI dan Federasi Berkuda Prancis.
Program ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan pengetahuan dan kompetensi para pelaku industri kuda, khususnya dalam menangani proses reproduksi secara lebih tepat dan profesional.
Inseminasi buatan sendiri menjadi salah satu teknologi penting dalam reproduksi kuda. Dengan metode ini, pemanfaatan pejantan unggul dapat dilakukan tanpa harus mempertemukan pejantan dan induk betina secara langsung.
Namun, keberhasilannya sangat bergantung pada berbagai faktor, mulai dari kualitas semen, kondisi reproduksi induk betina, hingga ketepatan waktu dan teknik pelaksanaan.
Karena itu, pemahaman mengenai manajemen reproduksi menjadi semakin penting seiring berkembangnya program breeding kuda di Indonesia.
“Kita tidak kalah dengan negara-negara lain, dan Indonesia memiliki banyak tenaga potensial yang dapat melakukan inseminasi buatan. Namun, hal tersebut harus didukung dengan pengetahuan yang lebih komprehensif dan berstandar agar hasilnya dapat maksimal,” ujar drh Widyastuti.
Advanced Equine Reproduction tidak hanya berbicara mengenai proses memasukkan semen ke induk betina. Pengelolaan reproduksi membutuhkan pemahaman yang lebih luas, termasuk pemeriksaan kondisi reproduksi, penanganan semen, hingga pencatatan dan pengelolaan program breeding.
Standar reproduksi modern juga menekankan pentingnya kualitas dan penanganan semen serta biosekuriti agar proses inseminasi dapat berlangsung secara aman dan terkontrol.
Langkah seperti ini penting untuk mendukung upaya peningkatan kualitas genetik kuda di Indonesia. Dengan pengelolaan yang lebih baik, potensi pejantan maupun induk betina unggul dapat dimanfaatkan secara lebih maksimal.
“Kami menekankan dalam hal persiapan, seperti bagaimana mempersiapkan pejantan yang baik agar dapat memiliki sprema yang berkualitas untuk diinseminasikan. Dalam pengelolaan sperma, kita juga harus memperhatikan penyesuaian suhu degan iklim yang ada di Indonesia dengan tujuan agar sperma tetap berada dalam kondisi yang baik,” papar drh Aulia.
Seminar ini juga menjadi bagian dari langkah PORDASI dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia di ekosistem olahraga dan peternakan kuda.
Sebelumnya, PORDASI telah menggelar sejumlah seminar yang menyasar berbagai aspek pengelolaan kuda, mulai dari stable management hingga kesehatan dan kesejahteraan kuda.
Dengan semakin banyaknya pengetahuan dan teknologi yang diperkenalkan kepada pemilik kuda, breeder, dokter hewan, serta pengelola stable, diharapkan praktik breeding di Indonesia dapat berkembang semakin profesional.
Pada akhirnya, peningkatan kualitas reproduksi bukan hanya soal menghasilkan lebih banyak anak kuda. Lebih jauh, teknologi dan manajemen breeding yang tepat diharapkan mampu membantu menghasilkan generasi kuda yang sehat, berkualitas, dan memiliki potensi lebih baik untuk mendukung kemajuan olahraga berkuda Indonesia. (Sumber: Pordasi.id)
Install SARGA.CO News
sarga.co