SARGA.CO — Dunia pacuan dan pembiakan kuda Thoroughbred kehilangan salah satu tokoh pentingnya. Arthur B. Hancock III, pendiri Stone Farm di Paris, Kentucky, Amerika Serikat, meninggal dunia dengan tenang di rumahnya pada 18 September 2026 dalam usia 83 tahun setelah lama berjuang melawan kanker pankreas.
Hancock meninggalkan istri, Staci, enam anak, dan sebuah warisan besar yang jejaknya tidak berhenti di Kentucky. Namanya juga melekat pada salah satu kuda paling berpengaruh dalam sejarah pacuan dunia, Sunday Silence. Lebih jauh lagi, darah Sunday Silence kemudian mengalir ke berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia.
Arthur B. Hancock III lahir dari salah satu keluarga paling berpengaruh dalam sejarah Thoroughbred Amerika. Kakeknya, Arthur B. Hancock Sr., merupakan pendiri Claiborne Farm. Sementara ayahnya, Arthur B. “Bull” Hancock Jr., membawa nama Claiborne semakin besar hingga menjadi salah satu pusat pembiakan kuda paling berpengaruh di dunia.
Namun, Arthur III memilih jalan berbeda. Setelah sang ayah meninggal pada 1972, adiknya, Seth Hancock, mengambil alih Claiborne. Arthur III justru membangun jalannya sendiri.
Ia memulai dari lahan seluas sekitar 100 acre yang sebelumnya disewa dari keluarganya. Dari sana, ia perlahan mengembangkan Stone Farm hingga menjadi lahan pembiakan lebih dari 2.000 acre. Stone Farm kemudian menghasilkan lebih dari 200 pemenang stakes, termasuk tiga juara Kentucky Derby: Gato Del Sol pada 1982, Sunday Silence pada 1989, dan Fusaichi Pegasus pada 2000.
Namun, di antara nama-nama besar tersebut, Sunday Silence memiliki tempat yang berbeda. Kuda inilah yang kelak membawa warisan Hancock jauh melampaui Amerika Serikat.
Sulit membayangkan bahwa salah satu pejantan paling berpengaruh dalam sejarah Thoroughbred dunia pernah dianggap kurang menarik oleh pasar.
Sunday Silence, kuda jantan berwarna gelap hasil persilangan Halo dan Wishing Well, hanya terjual seharga US$17.000 (Rp305 Juta) ketika mengikuti lelang yearling di Keeneland.
Hancock kemudian membelinya kembali. Hal yang sama terjadi ketika Sunday Silence kembali ditawarkan saat berusia dua tahun di California. Para pembeli masih belum yakin dengan kemampuannya.
Keputusan itu kemudian menjadi salah satu keputusan paling penting dalam sejarah pacuan kuda modern.
Pada 1989, Sunday Silence mengalahkan rival utamanya, Easy Goer, dalam Kentucky Derby dan Preakness Stakes. Ia kemudian menutup musim gemilang dengan memenangkan Breeders' Cup Classic dan dinobatkan sebagai Horse of the Year.
Namun, kejayaan Sunday Silence di Amerika ternyata baru permulaan.
Setelah pensiun dari arena pacuan, Sunday Silence dijual ke Shadai Farm di Jepang. Di negeri itu, pengaruhnya berkembang luar biasa besar. Sunday Silence menjadi pemimpin daftar sire selama 13 musim berturut-turut dan menghasilkan banyak keturunan yang kemudian mendominasi pacuan Jepang.
Salah satu yang paling terkenal adalah Deep Impact. Deep Impact menjadi juara Triple Crown Jepang yang tak terkalahkan dan kemudian berkembang menjadi salah satu pejantan paling berpengaruh dalam sejarah pacuan Jepang. Dari sinilah garis darah Sunday Silence terus menyebar ke berbagai negara. Dan tanpa banyak diketahui publik, salah satu jejaknya akhirnya sampai ke Indonesia.
Bagi penggemar pacuan kuda Indonesia, kisah Arthur Hancock menjadi menarik karena warisan Sunday Silence tidak berhenti di Jepang. Salah satu contohnya adalah Lord Langley, kuda kelahiran Jepang yang merupakan keturunan Deep Impact. Lord Langley berkarier di Jepang pada 2013 hingga 2018 dan mencatat enam kemenangan dari 32 kali start dengan total hadiah sekitar ¥130,763 juta.
Setelah berkarier di Jepang dan kemudian Australia, Lord Langley akhirnya masuk ke Indonesia sebagai pejantan. Garis keturunannya kemudian tercatat pada sejumlah kuda di Indonesia, termasuk Ruby Tonsea dan Sardonyx Tonsea.
Jejak lainnya dapat ditemukan melalui Minahasa Eclipse, pejantan kelahiran Australia hasil persilangan Snitzel dan Ditas. Garis maternal Ditas terhubung dengan Zembu, yang memiliki Fuji Kiseki sebagai salah satu leluhurnya. Fuji Kiseki sendiri merupakan putra penting Sunday Silence.
Keturunan Minahasa Eclipse yang terdaftar di Indonesia antara lain Remo Eclipse, Withney Eclipse, Kamaka Eclipse, Keyko Eclipse, dan Nara Eclipse. Dengan kata lain, meski Arthur Hancock tidak pernah secara langsung membawa Sunday Silence ke Indonesia, keputusan dan visi pembiakannya ikut membentuk garis darah yang akhirnya hadir di negeri ini.
Meski Sunday Silence menjadi bagian paling terkenal dari kisahnya, perjalanan Arthur Hancock sebenarnya jauh lebih panjang. Stone Farm terlibat dalam kelahiran dan pengembangan lebih dari 200 pemenang stakes, termasuk nama-nama seperti Risen Star, Bricks and Mortar, Goodbye Halo, Rainbow View, dan Air Force Blue.
Hancock juga dikenal aktif menyuarakan reformasi penggunaan obat dalam pacuan serta mendukung perlindungan dan kesejahteraan kuda. Baginya, masa depan olahraga pacuan kuda tidak hanya ditentukan oleh kemenangan di lintasan, tetapi juga oleh bagaimana manusia memperlakukan kuda yang menjadi pusat olahraga tersebut.
Pada 2025, kontribusinya mendapat pengakuan besar ketika ia dilantik ke National Museum of Racing and Hall of Fame sebagai Pillar of the Turf. Ia menyusul ayah dan kakeknya yang lebih dulu masuk dalam jajaran Hall of Fame keluarga tersebut.
Dalam upacara itu, Hancock menyampaikan sebuah kalimat yang menggambarkan pandangannya terhadap dunia yang telah ia jalani selama puluhan tahun: “Kuda adalah alasan kita semua berkumpul di sini.”
Install SARGA.CO News
sarga.co